Jaga obgyn (2): Anak itu bisa merasakan apa yang Ibu rasakan…
Hari itu pagi buta 10 September 2009…
“Selamat, Bu! Anaknya laki-laki!” Bayi itu diletakkan di dada sang ibu untuk menerima ASI pertamanya.
“Yah, kok laki-laki…”
“Loh, Bu,ibu ga senang anak ibu laki-laki?” Kataku bingung.
“Enggak. Saya maunya anak saya perempuan…” jawabnya, lugas. Aku terbengong2 mendengar jawaban si Ibu. Entah si ibu ini senang bercanda atau memmang serius, tapi aku selalu mengira seorang ibu tidak akan pernah kecewa dengan jenis kelamin anaknya. Kalau alasannya suaminya, aku sempat mengira mayoritas seorang pria menginginkan anaknya laki-laki. Jadi?
“Ini anak ibu yang keberapa?” (Bukan aku yang menganamnesisnya sehingga aku tidak tahu riwayat gravida, partus, dan abortusnya)
“Ini anak kedua, yang pertama laki-laki juga. Jadi saya inginnya sekarang perempuan… Biar sepasang, gitu…”
Oooo…
“Bu, jangan berkata begitu, anak ibu kan lucu… laki-laki atau perempuan tetap anugerah Allah…”
“Saya tetap mau anak saya perempuan…”
Duh, terserah ibu, deh…
Setelah aku membantu kelahiran plasentanya, dokter yang lain mengerjakan penjahitan pada bagian yang luka.
“Dokter, tetap di sini, ya. Saya takut sendirian di sini.” Katanya sambil memegang tanganku dengan erat. Well, seharusnya aku sudah beralih ke pasien lain untuk mengerjakan tugas lainnya, berhubung itu adalah IGD yang sibuk… Tapi, tak apalah, aku bersama pasien itu dulu… “Iya, Bu, tenang saja, saya tetap di sini.”
Penjahitan dilakukan dengan anestesi local. Memang sakit tidak terasa lagi, namun sering tetap terasa juga saat jarum-jarum itu menusuk jaringan sehingga seringkali Sang Ibu juga mengeluh atau berteriak kecil karena kurang nyaman dan memegang tanganku lebih kencang. Uniknya, setiap kali Sang ibu mengerang kecil, bayi yang ada di dadanya ikut menangis! Dan pada saat ibunya berhenti, sang makhluk mungil juga berhenti menangis.
“Dia merasakan yang ibu rasakan… Saat Ibu mengerang, dia ikut menangis…yang sabar, ya, Bu…”
“Iya..” Katanya sambil tersenyum.
Tapi tak lama dia mengulang lagi perkataannya… “Huh…kenapa anakku laki-laki…?”
Aku tertegun mendengarnya… dan seketika, setelah sang ibu mengatakannya, si bayi pun… menangis lagi…
“Wah, bu, setelah ibu ngomong begitu, anak ibu jadi nangis, tuh… jangan ngomong begitu lagi, dong, Bu…kasihan anaknya…”
“Iya, sih… tapi, saya inginnya anak saya perempuan…”
Rasanya tak tega melihat anak itu menangis seakan sedih karena tidak adanya penerimaan ibunya terhadap jenis kelaminnya…Tapi aku memilih untuk diam saja dan tetap tersenyum pada sang ibu, dan member dukungan padanya untuk menerima kelahiran anaknya.
Aku terpaksa meninggalkannya ke ruangan lain untuk menolong kelahiran ibu lainnya. Di ruangan yang berbeda itu, lahirlah seorang anak perempuan yang manis dengan perjuangan yang sangat berat dari seorang ibu muda. Sesuai prosedur, aku harus mencuci sarung tangan yang kugunakan ke larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi. Di ruangan itu aku tak menemukannya. Lalu aku mencari ember larutan tersebut yang kutemukan di ruangan ibu yang pertama.
“Permisi, Bu, saya mau cuci sarung tangan di sini.” Sapaku pada sang ibu.
“Oh, iya, Dok… baru ada yang melahirkan lagi, ya?”
“Iya, Bu…”
“Perempuan atau laki-laki, Dok, anaknya?”
“Perempuan, Bu…”
“Wah, senang sekali ibunya pastinya… Dapat anak perempuan…!”
“Masih aja nih, si ibu…”
“iya, Dok, saya ingin anak perempuan…”
Duuh…
Entah kenapa aku terus berempati pada perasaan si bayi. Kasihan dia, si ibu seperti tidak mengharapkannya. Dan entah kenapa pula aku sulit sekali berempati pada si ibu. Hanya karena anaknya sudah ada yang laki-laki, masa dia tidak mau menerima anaknya laki-2? Oke, gapapa, tapi tidak perlu disebut berulang-ulang begitu, kan?
Kenapa ya, si ibu ingiiin sekali anak perempuan? Selain supaya sepasang dengan anak pertamanya yang laki-laki, mungkin dia ingin ada yang bisa menemani dan membantunya di rumah sebagai sesame perempuan. Mungkin ada tuntutan di keluarganya supaya dia punya anak perempuan (walau kukira mayoritas penekanan ini adalah adanya anak lelaki)? Mungkin dia menganut paham matrilineal yang berprinsip garis keturunan dari pihak ibu (hey, aku orang padang tapi ga segitunya…walau memang ternyata saudaraku perempuan semua sih… :9)? Atau mungkin, di balik sikap senyumnya,si ibu sedang mengalami baby blues yang merupakan semacam bentuk depresi ibu pasca persalinan karena berubah drastisnya keadaan hormonal tubuh…? Atau..
Kalau dicari-cari kemungkinannya, masih banyak sekali… tapi sayang, aku tak bisa memastikannya berhubung aku sedang kerja di IGD yang sibuk… Sayang sekali… Yah, bersabarlah, Bu… Itu pasti yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu bisa menerima kondisi anak ibu, karena lihatlah, setiap Ibu mengeluhkan itu, sang bayi selalu tiba-tiba menangis, entah, padahal dia belum bisa memahamimu bicara…
Jaga Obgyn (1): Sulitnya jadi residen obgyn tingkat awal
9 September 2009
Ronde saat jaga malam adalah bagian yang cukup menegangkan. Itu adalah saat pelaporan tentang kondisi masing2 pasien di IGD oleh PPDS yang lebih junior. PPDS dari chief hingga fetus alias F, ditambah koas yang jaga malam itu harus mengikuti ronde. Aku selalu deg-degan setiap mau ronde, Karena selalu belum cukup mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teori hingga praktek yang biasanya ditanyakan oleh PPDS. Tapi ternyata, setakut-takutnya aku, lebih takut lagi jadi seorang PPDS paling junior, alias F alias fetus alias janin, yang biasanya akan lebih diserang oleh chiefnya.
Masuklah kami saat ronde ke sebuah ruangan untuk pre eklampsia…waduh, pre eklampsia… aku sudah tahu secara umum teori-teori tentang penyakit ini, tapi ada yang belum aku tahum dan memang belum dikasih di ruang kuliah, yaitu dosis obat dan cara pemberian obat alias terapi praktisnya! Segera aku ebrbisik ke teman di sebelahku supaya dia mencari tahu tentang hal itu karena ga tahu kenapa feeling ku mengatakan itu akan ditanyakan. Belum sempat dia mengambil buku untuk mencari jawaban, kami sudah ditanya…
“Co ass! Bagaimana cara pemberian dosis MgSO4 kepada pasien preeclampsia?”
Kami bertiga para koas malang itu gelagapan… Sekali lagi, secara teori kami tahu dosis tapi cara pemberiannya, kami belum tahu…
“Wah, bagaimana, sih, kalian harus tahu dong, cara pemberiannya… Bagaimana kalian bisa mengobati pasien kalau tidak tahu… nanti kalau sampai lewat dosis maksimal gimana…??? Memangnya, berapa dosis maksimal MgSO4???!!! Lalu, berapa waktu paruh MgSO4 dalam darah????!”
Wuah, makin gelagapan kami… aku memang belum baca dosis maksimal MgSO4… waduh2… maklum, baru awal-awal modul… (suatu cara ngeles yang sebenarnya tidak boleh dibenarkan… :9) Aku males juga kalau harus dimarahi dan dipermalukan di depan PPDS2 obgyn yang katanya galak2 itu…
Tapi untung kami tidak dimarahi maupun dipermalukan…sang chief malah memanggil PPDS F alias si super junior…
“Mana PPDS F nya??” PPDS F adalah PPDS tersibuk yang harus terima banyak disuruh2 oleh seniornya. Tugas mereka adaaaa aja… nama mereka paling sering bergema di ruangan besar IGD obgyn karena dipanggil ke sana kemari… Lalu datanglah si F tergopoh2 karena habis mengerjakan sesuatu… waduh, ketahuan kabur dia… gawat2…
“Maaf, Dok…” kata si F sedikit terengah…
Sang chief lalu menanyakan pertanyaan2 yang tadi ditanyakan pada kami kepada si F. Si F, entah lupa, entah grogi, entah benar2 ga tahu, gelagapan juga menjawabnya. Dan tak disangka, sang chief berkata padanya,
“Gimana, sih, coass2 ini aja tahu jawabannya tadi…!!! Makanya, lain kali ikut ronde..!!!!”
Dan kami pun terbengong2…
Itu pertama kalinya aku merasa dimuliakan di atas kesengsaraan orang lain…
Haduh…
Sedikit banyak itu membuatku berpikir ulang untuk masuk PPDS obgyn…
:9
*)PPDS=Program Pendidikan Dokter Spesialis
Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri 1430 H
Taqabalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir batin
Acquired Iman Deficiency Syndrome
Acquired Iman Deficiency Syndrome
Sindroma Futuristik
Acquired Iman Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekelompok gejala/penyakit yang disebabkan penurunan iman. SIndrom futuristic adalah nama lain dari sindrom ini. Belum ditemukan data epidemiologi tentang sindrom ini disebabkan oleh terbatasnya penelitian dan sulitnya mendeteksi penyakit ini dalam diri manusia. Namun, saat ini penyakit ini sudah menjangkiti kalangan manusia,termasuk kalangan yang diamanahi oleh Allah sebagai penyembuh umat (atas izin-Nya) dengan ber`amar ma`ruf nahi munkar, atau nama lainnya kalangan dai-daiyah. Gejala hanya dapat dikenali oleh pasien itu sendiri, orang-orang yang diberi firasat tajam oleh Allah SWT, dan diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan oleh Allah SWT.
Etiologi
Etiologi penyakit ini adalah World-lovevirus, atau virus cinta dunia. Virus ini menyebarkan paham untuk lebih mencintai dunia dan mempercayai kefanaan yang terjadi di dunia daripada cinta dan mengimani akhirat yang kekal. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan penyebaran virus ini, di antaranya:
- Pola makan ruhani yang buruk
- Kurang mengkonsumsi vitamin dzikir
- Pergaulan bebas dengan aktivitas duniawi
- Akrab dengan maksiat
- Akrab dengan kesia-siaan
- Akrab dalam mengejar hawa nafsu
- Buruknya penjagaan hati
- Kurang berolahraga dengan amal
- Dll
Gejala
- Gejala awal:
- Malas beraktivitas
- Larut dalam aktivitas dunia
- Otak tidak dapat diarahkan untuk memikirkan dakwah
- Mudah tersinggung bila amal tidak dihargai manusia
- Gejala lanjut
- berhubungan yang tidak syar-I dengan lawan jenis
- meninggalkan ibadah-ibadah sunnah dan menunda yang wajib
- Selalu mengharap pujian/kompensasi dalam perbuatannya
- Menjauhi kelompok orang saleh
- Fase kritis penyakit
- Bermaksiat dalam dosa besar
Terapi dan pencegahan
- Mendalami makna iman, islam, ihsan, ikhlas,
- Makan makanan iman yang bergizi berupa
- dzikrullah
- Memperbanyak tilawah dan tadabbur Al-Quran
- Menghafal Quran, Kemampuan ini insyaAllah akan meningkat seiring bersihnya hati
- Menegakkan salat wajib dan sunnah
- Berpuasa dari hal-hal terkait hawa nafsu
- Membaca vitamin berupa buku2 tentang shirah rasulullah dan shalafushshaleh
- Bergaul dengan orang-orang soleh
- Memperbanyak olahraga amal.
- Menjauhi maksiat sekecil apapun
- Istighfar sebanyak2nya
- Salat taubat
- Ingat mati, ingat akhirat
dll
Penyakit ini bisa datang kapan saja pada siapa saja… Waspadalah…waspadalah…
Obsgyn…
Oke.
dalam hitungan 1 minggu lagi aku akan menghadapi kehidupan baru…
stase di Obsgyn… obstetri dan Ginekologi… alias Kebidanan dan Kandungan…!! [panik!!!]
wah, ini bagian paling ngeblank, berhubung terakhir dibahas di tingkat 3 dulu…
fuuh,,, insyaAllah ini yang terbaik…
akan ada cerita apa ya, di stase yang satu ini…?
obsgyn… bagian yang sebenarnya cukup kuminati…hmmm…
yah, semoga Allah memberi kemudahan…Amiin…
jadi ingat tulisanku yang bulan Mei kemarin… (last night in ER)…
…
oke, cukup…
saatnya menghadapinya…
bismillahirrahmaanirrahiim…
mohon doanya, ya, semua yang membaca ini…! Mohon doa agar penulis bisa menjalani dan mempelajari ilmu nanti dengan baik dan semoga angka kematian ibu di Indonesia semakin menurun seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan… amiin…
(maap ya, random bgt, nih… tulisan spontan setelah baca pengumuman pembagian kelompok)
Jihad itu…
Jihad itu…
bukan menyerang para tamu,
pun bukan berjuang karena kesumat,
bukan pula berusaha mencipta bahaya…
tapi jihad itu…
berpeluh-peluh menimba ilmu,
berlelah-lelah menghalau maksiat,
dan…
bersusah payah membawa cahaya…
“Be a Good Moslem or Die as Syuhada”
That’s my motto, too… what’s wrong?
Mungkin sebagian mereka hanya belum terbiasa… dan sebagian mereka memang sudah salah makna dengan yakinnya… seperti aku yang juga sedang belajar membiasakan diri dan memaknainya..
fuuh…
Please, don’t perceive jihad in a narrow way…!
-23 Juli 2009; H+6 peristiwa pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton;
sehabis menonton berita TV tentang stiker di jendela rumah Ibrahim…-
“Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum [nyata] orang-orang yang sabar.” (QS.Ali Imran:142)
Muhasabah Kematian
Bila sesosok jasad di depanmu itu adalah kalian…
Mungkin pagi kemarin kalian masih berjalan2 dengan teman2 kalian…
Mungkin siang kemarin kalian masih sempat mendengar sayup-sayup tausiah…
Atau mungkin sempat sejenak tidur bersantai menikmati hari…
Mungkin sore tadi kalian masih tertawa dan bercanda bersama teman2 kalian…
Tapi kini, inilah kalian, terbujur kaku… (lagi…)
Being an introvert
I was a kind of great introverts since I was a child until a couple years ago. Actually, it didn`t mean I was a silent child who never talk any words. I talked about anything, met new people easily, and liked to accompany any person. But, I just rarely shared my own feeling or thought. I enjoyed loneliness and thought or dreamed about anything but just keep it by myself. If I had a problem, I tried to solve it alone and if I was sad, I just cried it alone. Secretive, maybe that`s the right name for my attitude. (lagi…)