Pernah Depresi

Aku pernah ‘depresi’ (secara umum, sih… bukan yang berdasarkan kriteria DSM IV)…kamu pernah?

Sampai tiba2 aku menemukan pelabuhan luka, di sebuah toko buku… aku terpana pada sebuah buku…aku tak pernah melihatnya sebelumnya…tapi ia bukan buku baru, cetakan terakhir tahun 96an.. tapi entah kenapa aku tertarik dgn judulnya: “Perbarui Hidupmu” karya Muhammad al Ghazali… aku iseng membuka2 dan tersentak. Hampir semua isinya “menasehati” diriku ttg semua masalahku, atau bisa dibilang masalah2 “permanen”ku selama ini… Jangan cemas…jadilah diri sendiri…dan… yg paling menusuk… “Jangan menangisi hal2 yang sudah terjadi…”

Kisah nyata…seseorang bercerita ttg suatu pengalaman yg mengubah pola pikirnya selama ini. Ia merupakan siswa yang selalu cemas… setelah ujian, ia selalu sulit tidur dan sibuk mengeluhkan kesalahan2 yg ia lakukan…ia selalu berpikir, mengapa ia berbuat begini, begitu, dan seterusnya…sampai suatu hari, gurunya membuka sesi praktikum di lab dengan meletakkan sebotol susu di meja. Semua siswa bingung. Tiba2 si guru segera menyenggol botol susu itu hingga jatuh, pecah, dan tumpah susunya, seraya berseru, “JANGAN MENANGISI SUSU YANG TELAH TUMPAH!!!” Semua terkesiap. Sang guru berkata, “dengan sedikit kehati2an dan pikiran yang jernih, kalian bisa menghindari peristiwa tadi. Tapi sekarang, bagaimanapun susu itu telah tumpah! Ia sudah meresap ke tanah dan tak mungkin kita kembalikan lagi! Kalian tidak bisa mengulang lagi peristiwa itu. Satu2nya cara adalah kalian bersihkan lantai yang kotor oleh susu tadi, dan bergeraklah menuju pekerjaan selanjutnya…jadi, yang bisa kalian lakukan saat ini adalah AMBIL HIKMAHNYA, kemudian HAPUSKAN dari pikiran, dan MELANGKAHLAH TERUS ke jalan berikutnya…

Hidup terus berjalan dan orang yang putus asa hanya bisa meratap, tertinggal barisan…

Air mataku menetes… rasanya beban itu ikut jatuh bersamanya… aku merasa ringan dan jauh lebih tenang… aku merasa bodoh, selama ini aku sering sekali dinasehati maupun disindir teman2 dan sahabat2 karena sikapku yg terlalu merasa bersalah kalau berbuat salah sama orang lain. Aku kira itu memang dasar kepribadianku…kukira itu hal yg wajar…Tapi ternyata, itu lebih merupakan kebodohan yg ga produktif… aku selama ini berulang kali menangisi susu-susu yang telah aku tumpahkan… berulang kali aku membiarkan tumpahan susu itu menggenang sampai akhirnya mengering dan membekas selamanya…aku merasa itu adalah salah satu bentuk pertanggung jawabanku, sebuah hukuman untuk diriku sendiri… ternyata aku salah, aku telah menyiksa diri…

Kini, aku belajar untuk menghadapi masalahku dgn lebih tegar. Aku mengakui kesalahanku dengan lebih berani. Aku beristighfar, bertaubat, dan memohon maaf atas salahku…Tapi tak kubiarkan rasa sesal dan sedih itu lama bertengger di hati. Wajarlah manusia berbuat salah, tapi yg penting ambil hikmah dan pelajarannya dan berusahalah untuk tidak mengulangnya lagi…dan ingat semua butuh proses… Jangan lupa pula untuk tetap dgn tegar bertanggung jawab atas kesalahanmu itu…tapi, sekali lagi, –jangan bebani hatimu–…”Cuma nyapein diri lu aja…” itu kata seorang teman…

Aku putuskan untuk benar2 maju. Aku harus fokus pada jalan yang ada di depanku. Karena waktu di masa lalu tak akan kembali lagi. Hiduplah untuk hari ini, karena kemarin bukan milikmu lagi dan hari esok belum kau miliki (anonim). Aku berusaha melupakan semua rasa sedih dan kecewaku pada diri sendiri…aku belajar memaafkan diriku…

Selalu kuingat keteladanan dari seorang sahabat Rasulullah SAW, Umar din Khattab ra, yang setelah tobatnya, teguh dan mantap memegang dan memperjuangkan agama Islam, walaupun ia sebelumnya memerangi Islam habis2an dan pernah melakukan dosa yang sangat besar di masa Jahiliyahnya… Bertaubatlah, maafkanlah dirimu, dan hadapilah terus jalan di depanmu. Istiqomahlah, karena insyaAllah… di ujung sana ada cahaya…

Ya Allah, ampunilah hamba…perkenankanlah hamba merasakan hangat cahayamu di akhirat nanti… Buat orang2 yang sudah kukecewakan, mohon maafkan kesalahan dan kekuranganku… Buat teman2 semua, yg sudah sering menasehati, afwan atas kebebalanku… jazakumullah khairan katsiran… jangan jenuh2 mengingatkanku, ya…

…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS.Yusuf : 12)

23 Juni 2007
Semoga bisa menjadi obat buat siapa saja yang tepat… :9

3 thoughts on “Pernah Depresi

  1. subhanallah..setuju mbak, kita memang harus “melupakan” masa lalu dan menghadapkan diri kita di usia yang tersisa. Imam Asy-Syafi’i berkata:

    Biarkanlah hari-hari berbuat sekehendaknya

    Tapi baguskanlah hati tatkala takdir telah diputuskan

    Jangan gentar dengan pahitnya musibah

    Karena musibah dunia tidaklah kekal

    Jadilah pribadi yang tegar menghadapi goncangan hidup

    Dengan sifat pemaaf dan tepat janji sebagai pegangan hidup

    Tidaklah akan kekal suatu kesedihan

    Dan tidak pula kebahagiaan

    Tak mungkin langgeng beratnya kesusahan,

    Dan tidak pula kelapangan

    Jika engkau memilki hati yang qona’ah

    Maka engkau dan raja dunia adalah sama

    Dan jika ajal bersua, tidaklah bumi mampu melindungi

    Tidak pula langit mampu mengayomi!

    (Diwan Asy-Syafi’i)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s