Ada cerita tentang seorang ulama saleh yang memiliki isteri keras kepala dan suka mencela. Suatu hari, ulama ini berkata, “Andai engkau melihatku ketika sedang mengajar, ketika orang-orang berkerumun mendengarkanku dengan rasa hormat!” Dia berharap sikap isterinya akan berubah setelah menyaksikan bagaimana dia mengajar.
Sang istri pun berangkat ke tempat suaminya mengajar. Setelah kembali dari rumahnya, dia berkomentar, “Aku telah melihatmu. Betapa buruknya engkau! Semua orang duduk dengan tenang dan engkau berteriak-teriak sendirian.”
Berkat kesabaran ulama ini menghadapi istrinya, Allah pun berkenan memberikan kemulaan padanya. Orang-orang menyaksikan cahaya Tuhan dalam setiap tingkah lakunya.
Beberapa waktu kemudian, istrinya wafat. Murid-murid yang mendatanginya bertanya-tanya mengapa cahaya Tuhan yang biasanya tampak pada dirinya itu kini tidak ada lagi. Dia menjawab,“Telah pergi orang yang karenanya Allah memberikan kemuliaan padaku.”
Diambil dari:
Muhammad Muta`wali Syarawi. Fiqih Wanita. Jakarta: Penerbit Pena; 2006 (Bab Nusyuz, hal. 235)
“Jika sabar dan syukur adalah dua tunggangan, maka aku tidak peduli mana yang akan kunaiki”
(Umar bin Khattab)


assalamu a’laikum wa rahmatullohi wa baro katuh
mohon ijin copas
“Telah pergi orang yang karenanya Allah memberikan kemuliaan padaku.”
Unyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, subhannallah T.T
hmm.. Jadi pesan moralnya : “Ladies, jadilah isteri yang keras kepala dan suka mencela!”