Jadi suatu hari, aku sedang menunggu bis 76 ku untuk mengantarku pulang ke rumah. Seperti biasa, dibutuhkan sedikit kesabaran ekstra untuk menanti bus itu, berhubung ia lumayan jarang lewat. Kadang2, bisa sih, lewat beberapa kali dalam waktu dekat, namun pengalaman seperti itu jarang terjadi…
oke, sudah satu jam menunggu di sini dan bus itu belum datang juga… bagus… ditambah cuaca yang mendukung (untuk pengeluaran cairan tubuh melalui kelenjar keringat…), semakin suntuk lah aku menunggu bus itu lewat… sabar, vik… oke2, aku bersabar dengan mengamati orang2 di sekitar…
Hey, itu ada kakak kelasku! Aku sapalah dia yang sedang berjalan bersama adiknya. ternyata, dia juga mau naik bus 76. wah, senang dapat teman sepenungguan (bahasa yang aneh)… kukatakanlah bahwa sudah 1 jam aku menunggu bus itu. dia terkejut mengetahui nasib yang mungkin akan dialaminya juga siang itu: menunggu lama. Oke, ia pun bergabung denganku menunggu si bus.
Menit demi menit masih berlalu. Di tengah kebosanan itu, aku pun memutuskan untuk membeli majalah yang bisa dibaca sambil menunggu. Ah, beli majalah tarbawi aja ah… aku pun menuju ke kios majalah yang agak jauh dari halte. Pertimbanganku
sepertinya bis itu masih akan lama datang. Nanti pas dia datang smoga aku masih sempat naik lah… Di kios majalah, kulihat judul tarbawi saat itu: “Minimal tersenyumlah”. Intinya kita harus tetap tersenyum walau terkena musibah karena itu menunjukkan kesabaran dan rasa syukur. Hehe… Tumben… Bukan mistik ya…tapi entah knapa aku sering merasa judul tarbawi itu sering pas dengan kondisi yang sedang kualami saat itu. Tapi kok yang ini ga terlalu kena ya? Aku merasa sedang hepi2 saja saat itu walau mnunggu lama. Ha2 sudahlah, tetap beli saja ah,udah lama tidak beli tarbawi… Saya pun membayar 10ribu dan menunggu kembalian…tiba2…
Wush… Melajulah bus 76 di belakangku. Paniklah aku minta ia berhenti. Tapi tampaknya pak kenek tidak melihat. Setengah memaksa aku meminta penjual majalah segera memberi kembalian. Tapi entah kenapa saraf motorik pak penjual seperti mengalami hambatan kecepatan saat itu.. (Hiyaa…pak,jangan pakai slow motion dong,ngeluarin uangnyaa… ><) Nyaris kutinggal saja kembalian itu kalau saja aku tak sadar bis itu sudah jauh melaju…
Hei…
Aku sudah menunggu 1 1/2 jam…
Aku harus buru2 pulang agar tak macet…
Aku sudah menunggu 1 1/2 jam…
Kakak kelasku tadi sudah naik bus itu dengan hanya menunggu setengah jam-an…
Aku sudah menunggu 1 1/2 jam…
Dan gara2 beli majalah ini aku harus menunggu 1 1/2 jam lagiiiiii????!!! (Mohon jangan ditiru,sikap menyalahkan orang lain apalagi benda lain saat tertimpa kemalangan.red
)
Kenapa aku harus memutuskan beli majalah ini?
Kenapa tadi aku ga sadar bis sudah datang?
Kenapa tidak kutinggal saja kembaliannya?
Kenapa bapak tadi begitu lama??? (Yah,kena deh,pak…maaf ya…:p)
Aku sudah menunggu lama sendiriaan…
Sebal.
Lalu aku pun berjalan gontai dengan wajah tertekuk menuju halte. Semakin sebal menunggu di situ,aku melakukan hal yang agak irasional yaitu berjalan mengisi waktu ke halte sebelumnya dengan alasan agar ga dapat bis yang penuh. (Tapi sebenarnya itu ga sebanding dengan energi yang harus dibuang untuk ke sana… Jauh dan super panas…hehe…emang benar,orang emosi energinya besar,tapi akurasi pikiran minus…
) Sungguh dalam perjalanan menuju halte kedua itu wajahku ga ada manis2nya (emang biasanya manis? Haha…) Dan di halte itu aku menunggu lama lagi baru akhirnya aku mendapat bis. Naiklah aku masih dengan hati kesal. Aku pun duduk di kursi dekat jendela dan mulai mengistirahatkan diri. Alhamdulillah, akhirnya…
Tiba2 aku teringat untuk membaca tarbawi yang dari tadi kugenggam… Sampai lupa tadi beli majalah…:p Tadi apa the judulnya? Kulihat lagi kovernya dan aku pun tercenung…
"Minimal tersenyumlah"…
Eh?
Tiba2 aku ingin mentertawakan diri sendiri… Sekali lagi, ini humor dari Sang Pencipta…
Memang, kesabaran itu adalah sejak pukulan pertama…bagaimana kita bisa menerima suatu masalah dengan sabar sejak detik pertama masalah itu menimpa kita…janganlah berbangga kalau hari ini kita bisa murah senyum…orang tidak akan dikatakan beriman sebelum ia diuji…
Oke,setelah membaca kisah memalukan ini… mari tersenyum selalu,teman2… Mohon jangan ditiru…:D
*peristiwa ini terjadi di suatu hari di tahun 2009…
like this so much kak..
‘humor dr Sang Pencipta..
hehe dibikin senyum aja, walo getir
hmmm kyknya bagus buat diinget2 pas lg bete jg
Salam kenal michelia…
anak fk unand? Angkatan berapa?
2008 kak..
salam kenal juga
senang baca tulisan2 kk
wow.. langka banget ya tuh bis!!
Jangan2 saking langkanya, sekali naik ongkosnya 25rb sama seperti harga cabe sekilo sekarang!^^
tapi mantablah, Vika.. masih bisa senyum setelah kejadian itu. WELL DONE! klo kata Rianti di IMB
Nanti Gue juga akan gitu deh, Vik.. klo naek angkot tapi lupa bawa duit.. yah, minimal tersenyumlah..^_^
itu 2009, bang, tapi sekarang alhamdulillah kayaknya udah mulai banyak, ga sejarang dulu… tapi saingannya pun nambah, jadi kalau sampai ketinggalan, saya bakal melenggang santai naik busway ke lebak bulus..hehe… sekarang lebih suka naik kereta, sih…
kalau kayak gitu… siap2 dapat senyuman “paling manis” dari pak supir. hehehe…
kalau begitu musti stok Tarbawi yang banyak =)
Wah betul tuh..udah lama ga beli tarbawi…
boleh dikirim,pak deni…