minimal, tersenyumlah…

Jadi suatu hari, aku sedang menunggu bis 76 ku untuk mengantarku pulang ke rumah. Seperti biasa, dibutuhkan sedikit kesabaran ekstra untuk menanti bus itu, berhubung ia lumayan jarang lewat. Kadang2, bisa sih, lewat beberapa kali dalam waktu dekat, namun pengalaman seperti itu jarang terjadi…

oke, sudah satu jam menunggu di sini dan bus itu belum datang juga… bagus… ditambah cuaca yang mendukung (untuk pengeluaran cairan tubuh melalui kelenjar keringat…), semakin suntuk lah aku menunggu bus itu lewat… sabar, vik… oke2, aku bersabar dengan mengamati orang2 di sekitar…

Hey, itu ada kakak kelasku! Aku sapalah dia yang sedang berjalan bersama adiknya. ternyata, dia juga mau naik bus 76. wah, senang dapat teman sepenungguan (bahasa yang aneh)… kukatakanlah bahwa sudah 1 jam aku menunggu bus itu. dia terkejut mengetahui nasib yang mungkin akan dialaminya juga siang itu: menunggu lama. Oke, ia pun bergabung denganku menunggu si bus.

Menit demi menit masih berlalu. Di tengah kebosanan itu, aku pun memutuskan untuk membeli majalah yang bisa dibaca sambil menunggu. Ah, beli majalah tarbawi aja ah… aku pun menuju ke kios majalah yang agak jauh dari halte. Pertimbanganku
sepertinya bis itu masih akan lama datang. Nanti pas dia datang smoga aku masih sempat naik lah… Di kios majalah, kulihat judul tarbawi saat itu: “Minimal tersenyumlah”. Intinya kita harus tetap tersenyum walau terkena musibah karena itu menunjukkan kesabaran dan rasa syukur. Hehe… Tumben… Bukan mistik ya…tapi entah knapa aku sering merasa judul tarbawi itu sering pas dengan kondisi yang sedang kualami saat itu. Tapi kok yang ini ga terlalu kena ya? Aku merasa sedang hepi2 saja saat itu walau mnunggu lama. Ha2 sudahlah, tetap beli saja ah,udah lama tidak beli tarbawi… Saya pun membayar 10ribu dan menunggu kembalian…tiba2…

Wush… Melajulah bus 76 di belakangku. Paniklah aku minta ia berhenti. Tapi tampaknya pak kenek tidak melihat. Setengah memaksa aku meminta penjual majalah segera memberi kembalian. Tapi entah kenapa saraf motorik pak penjual seperti mengalami hambatan kecepatan saat itu.. (Hiyaa…pak,jangan pakai slow motion dong,ngeluarin uangnyaa… ><) Nyaris kutinggal saja kembalian itu kalau saja aku tak sadar bis itu sudah jauh melaju…
Hei…
Aku sudah menunggu 1 1/2 jam…
Aku harus buru2 pulang agar tak macet…
Aku sudah menunggu 1 1/2 jam…
Kakak kelasku tadi sudah naik bus itu dengan hanya menunggu setengah jam-an…
Aku sudah menunggu 1 1/2 jam…
Dan gara2 beli majalah ini aku harus menunggu 1 1/2 jam lagiiiiii????!!! (Mohon jangan ditiru,sikap menyalahkan orang lain apalagi benda lain saat tertimpa kemalangan.red :D)
Kenapa aku harus memutuskan beli majalah ini?
Kenapa tadi aku ga sadar bis sudah datang?
Kenapa tidak kutinggal saja kembaliannya?
Kenapa bapak tadi begitu lama??? (Yah,kena deh,pak…maaf ya…:p)
Aku sudah menunggu lama sendiriaan…
Sebal.

Lalu aku pun berjalan gontai dengan wajah tertekuk menuju halte. Semakin sebal menunggu di situ,aku melakukan hal yang agak irasional yaitu berjalan mengisi waktu ke halte sebelumnya dengan alasan agar ga dapat bis yang penuh. (Tapi sebenarnya itu ga sebanding dengan energi yang harus dibuang untuk ke sana… Jauh dan super panas…hehe…emang benar,orang emosi energinya besar,tapi akurasi pikiran minus… :D) Sungguh dalam perjalanan menuju halte kedua itu wajahku ga ada manis2nya (emang biasanya manis? Haha…) Dan di halte itu aku menunggu lama lagi baru akhirnya aku mendapat bis. Naiklah aku masih dengan hati kesal. Aku pun duduk di kursi dekat jendela dan mulai mengistirahatkan diri. Alhamdulillah, akhirnya…

Tiba2 aku teringat untuk membaca tarbawi yang dari tadi kugenggam… Sampai lupa tadi beli majalah…:p Tadi apa the judulnya? Kulihat lagi kovernya dan aku pun tercenung…

"Minimal tersenyumlah"…

Eh?
Tiba2 aku ingin mentertawakan diri sendiri… Sekali lagi, ini humor dari Sang Pencipta…

Memang, kesabaran itu adalah sejak pukulan pertama…bagaimana kita bisa menerima suatu masalah dengan sabar sejak detik pertama masalah itu menimpa kita…janganlah berbangga kalau hari ini kita bisa murah senyum…orang tidak akan dikatakan beriman sebelum ia diuji…

Oke,setelah membaca kisah memalukan ini… mari tersenyum selalu,teman2… Mohon jangan ditiru…:D

*peristiwa ini terjadi di suatu hari di tahun 2009…ūüėČ

when should I write again?

hey, it’s been a very long time since I wrote in this blog. If you pay more attention in the date of my writings, you’ll find that September 2009 is the last date of my writing. How can?

If I do a flash back, I remember that the first time I wrote in this blog is when I feel sad… melancholic mood… and so the second… and the third… and… wow, I found out that sadness and melancholic mood swing is my power to contemplate and then write something… So does it mean that I am too happy after October 2009 to write?? haha… not really, ofcourse…

Maybe, I’ve just lost my contemplating mind… where did it go?

I’m sorry that this post is very random… just wanna know whether any of you who read this post can give me some reason to write and some tips to start writing [again]…

thanx a lot…ūüôā

Kemuliaan Sabar

Ada cerita tentang seorang ulama saleh yang memiliki isteri keras kepala dan suka mencela. Suatu hari, ulama ini berkata, “Andai engkau melihatku ketika sedang mengajar, ketika orang-orang berkerumun mendengarkanku dengan rasa hormat!” Dia berharap sikap isterinya akan berubah setelah menyaksikan bagaimana dia mengajar.

Sang istri pun berangkat ke tempat suaminya mengajar. Setelah kembali dari rumahnya, dia berkomentar, “Aku telah melihatmu. Betapa buruknya engkau! Semua orang duduk dengan tenang dan engkau berteriak-teriak sendirian.”

Berkat kesabaran ulama ini menghadapi istrinya, Allah  pun berkenan memberikan kemulaan padanya. Orang-orang menyaksikan cahaya Tuhan dalam setiap tingkah lakunya.

Beberapa waktu kemudian, istrinya wafat. Murid-murid yang mendatanginya bertanya-tanya mengapa cahaya Tuhan yang biasanya tampak pada dirinya itu kini tidak ada lagi. Dia menjawab,“Telah pergi orang yang karenanya Allah memberikan kemuliaan padaku.”

Diambil dari:

Muhammad Muta`wali Syarawi. Fiqih Wanita. Jakarta: Penerbit Pena; 2006 (Bab Nusyuz, hal. 235)

‚ÄúJika sabar dan syukur adalah dua tunggangan, maka aku tidak peduli mana yang akan kunaiki‚ÄĚ

(Umar bin Khattab)

Menahan Emosi

5 Mei 2008

Untuk temanku yang meminta saran tentang menahan emosi negatif

Aslm. Apa kabar ukhti? Semoga sekarang dan seterusnya berada dalam  suasana bahagia, ya.

Boleh ikut kasih saran? (Sori kalau dah basi,y…) menurutku, untuk bisa mengubah perilaku kita menjadi lebih baik, selain memikirkan betapa buruk perilaku kita, sebaiknya kita juga memikirkan bahwa betapa rugi jika kita berbuat begini, padahal kalau kita berlaku sebaliknya, akan jauh lebih baik hasilnya. Apa yang kita lakukan sekarang akan menjadi sangat ga berguna bila kita tahu apa yang akan terjadi bila kita tidak melakukannya… setuju?

Coba cari 1001 alasan buat kita menahan diri‚Ķ ‚ÄúKalau gw ga melakukan itu, gw bisa lebih tenang nantinya, gw ga bakal nyesel gara2 salah ngomong, gw ga bakal kena dosa marah2, gw bakal bisa mengontrol diri gw‚Ķ‚ÄĚ Kehabisan kata2? Atau cara ini terlalu bikin mikir dan ga sesuai sama kondisi hati yg sedang emosional? Hm‚Ķ coba tips ini yang last but nt least‚Ķ.

Melawan emosi negative dengan emosi positif akan lebih mudah diterima daripada melawannya dengan pikiran saja, karena saat kita emosi, kita sulit berpikir jernih. Buktinya, kalau kita lagi marah, biasanya kita akan lebih mudah dibujuk dengan kata2 lembut daripada dibentak dengan jawaban datar atau malah ucapan bahwa kita udah bersikap ga rasional. Saat kesal coba imajinasikan bayangan yang menggugah emosi positif dalam diri kita.

Sehubungan dengan hal itu, coba baca Ali imran 133-134:

‚ÄúDan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang2 yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu¬† lapang maupun sempit, dan orang2 yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.‚ÄĚ

Balasan  Allah untuk orang yang menahan amarah dan memaafkan adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi! Apakah surga adalah hal yang `mengawang2`? Tentu tidak, karena surga itu begitu konkret, sekonkret janji Allah SWT kepada makhluk-Nya. Yang namanya janji manusia belum tentu ditepati, bahkan walau sudah di depan mata, bisa lenyap seketika. Namun, janji Allah itu pasti.

Dan surga itu sendiri bukanlah khayalan tentang tempat yang nyaman belaka. Dia adalah tempat di mana segala keinginan kita, dari yang paling mustahil sampai yang paling mungkin, dan yang tidak dikabulkan oleh Allah di dunia, akan dikabulkan-Nya di Surga. Just imagine what u always want and imagine that it will surely happen, in jannah, if you become a member of it. Punya suami bertampang George Clooney? Nikmatin fasilitas sekelas putri-putri bangsawan? Makan coklat sepuasnya tanpa takut jadi gemuk? Semua insya Allah bisa terkabul!

Dan yang pasti, di sanalah kita dapat melihat Rabb kita tercinta, Allah SWT. Di sanalah kita akan merasakan cinta Allah yang sebenarnya, dan itu akan abadi… insya Allah. Apa lagi yang kita cari?

Apa yang terjadi di dunia ini tidaklah berarti dibanding apa yang akan kita dapatkan bila kita mengabaikan hal2 yang tidak penting darinya. Mencetuskan marah dan tidak memaafkan orang akan menjauhkan kita dari surga, dan menahannya akan membuat kita lebih dekat dan berpeluang meraih surga-Nya. Jadi, ga perlu ragu mati2an menahan hal kecil (co: tahan emosi kita) untuk mendapatkan hal yang jauh lebih besar (co:menjadi ahli surga). Setuju?

Well, begitulah yang dijanjikan Allah SWT untuk orang2 yang menahan diri. Memang, walau, sebagai perempuan kita cenderung mudah terpengaruh perasaan dan rentan menjadi terlalu emosional, tapi justru itu tantangannya, gimana kita bisa mengatasi masalah ini dengan usaha terbaik. Wassalam! Saling ngingetin, ya! Thx dah curhat ke anak2 tahu logay!

Pernah Depresi

Aku pernah ‘depresi’ (secara umum, sih… bukan yang berdasarkan kriteria DSM IV)…kamu pernah?

Sampai tiba2 aku menemukan pelabuhan luka, di sebuah toko buku‚Ķ aku terpana pada sebuah buku‚Ķaku tak pernah melihatnya sebelumnya‚Ķtapi ia bukan buku baru, cetakan terakhir tahun 96an.. tapi entah kenapa aku tertarik dgn judulnya: ‚ÄúPerbarui Hidupmu‚ÄĚ karya Muhammad al Ghazali‚Ķ aku iseng membuka2 dan tersentak. Hampir semua isinya ‚Äúmenasehati‚ÄĚ diriku ttg semua masalahku, atau bisa dibilang masalah2 ‚Äúpermanen‚ÄĚku selama ini‚Ķ Jangan cemas‚Ķjadilah diri sendiri‚Ķdan‚Ķ yg paling menusuk‚Ķ ‚ÄúJangan menangisi hal2 yang sudah terjadi‚Ķ‚ÄĚ

Kisah nyata‚Ķseseorang bercerita ttg suatu pengalaman yg mengubah pola pikirnya selama ini. Ia merupakan siswa yang selalu cemas‚Ķ setelah ujian, ia selalu sulit tidur dan sibuk mengeluhkan kesalahan2 yg ia lakukan‚Ķia selalu berpikir, mengapa ia berbuat begini, begitu, dan seterusnya‚Ķsampai suatu hari, gurunya membuka sesi praktikum di lab dengan meletakkan sebotol susu di meja. Semua siswa bingung. Tiba2 si guru segera menyenggol botol susu itu hingga jatuh, pecah, dan tumpah susunya, seraya berseru, ‚ÄúJANGAN MENANGISI SUSU YANG TELAH TUMPAH!!!‚ÄĚ Semua terkesiap. Sang guru berkata, ‚Äúdengan sedikit kehati2an dan pikiran yang jernih, kalian bisa menghindari peristiwa tadi. Tapi sekarang, bagaimanapun susu itu telah tumpah! Ia sudah meresap ke tanah dan tak mungkin kita kembalikan lagi! Kalian tidak bisa mengulang lagi peristiwa itu. Satu2nya cara adalah kalian bersihkan lantai yang kotor oleh susu tadi, dan bergeraklah menuju pekerjaan selanjutnya‚Ķjadi, yang bisa kalian lakukan saat ini adalah AMBIL HIKMAHNYA, kemudian HAPUSKAN dari pikiran, dan MELANGKAHLAH TERUS ke jalan berikutnya‚Ķ

Hidup terus berjalan dan orang yang putus asa hanya bisa meratap, tertinggal barisan…

Air mataku menetes… rasanya beban itu ikut jatuh bersamanya… aku merasa ringan dan jauh lebih tenang… aku merasa bodoh, selama ini aku sering sekali dinasehati maupun disindir teman2 dan sahabat2 karena sikapku yg terlalu merasa bersalah kalau berbuat salah sama orang lain. Aku kira itu memang dasar kepribadianku…kukira itu hal yg wajar…Tapi ternyata, itu lebih merupakan kebodohan yg ga produktif… aku selama ini berulang kali menangisi susu-susu yang telah aku tumpahkan… berulang kali aku membiarkan tumpahan susu itu menggenang sampai akhirnya mengering dan membekas selamanya…aku merasa itu adalah salah satu bentuk pertanggung jawabanku, sebuah hukuman untuk diriku sendiri… ternyata aku salah, aku telah menyiksa diri…

Kini, aku belajar untuk menghadapi masalahku dgn lebih tegar. Aku mengakui kesalahanku dengan lebih berani. Aku beristighfar, bertaubat, dan memohon maaf atas salahku‚ĶTapi tak kubiarkan rasa sesal dan sedih itu lama bertengger di hati. Wajarlah manusia berbuat salah, tapi yg penting ambil hikmah dan pelajarannya dan berusahalah untuk tidak mengulangnya lagi‚Ķdan ingat semua butuh proses‚Ķ Jangan lupa pula untuk tetap dgn tegar bertanggung jawab atas kesalahanmu itu‚Ķtapi, sekali lagi, ‚Äďjangan bebani hatimu‚Äď‚Ķ”Cuma nyapein diri lu aja‚Ķ” itu kata seorang teman‚Ķ

Aku putuskan untuk benar2 maju. Aku harus fokus pada jalan yang ada di depanku. Karena waktu di masa lalu tak akan kembali lagi. Hiduplah untuk hari ini, karena kemarin bukan milikmu lagi dan hari esok belum kau miliki (anonim). Aku berusaha melupakan semua rasa sedih dan kecewaku pada diri sendiri…aku belajar memaafkan diriku…

Selalu kuingat keteladanan dari seorang sahabat Rasulullah SAW, Umar din Khattab ra, yang setelah tobatnya, teguh dan mantap memegang dan memperjuangkan agama Islam, walaupun ia sebelumnya memerangi Islam habis2an dan pernah melakukan dosa yang sangat besar di masa Jahiliyahnya… Bertaubatlah, maafkanlah dirimu, dan hadapilah terus jalan di depanmu. Istiqomahlah, karena insyaAllah… di ujung sana ada cahaya…

Ya Allah, ampunilah hamba…perkenankanlah hamba merasakan hangat cahayamu di akhirat nanti… Buat orang2 yang sudah kukecewakan, mohon maafkan kesalahan dan kekuranganku… Buat teman2 semua, yg sudah sering menasehati, afwan atas kebebalanku… jazakumullah khairan katsiran… jangan jenuh2 mengingatkanku, ya…

‚Ķdan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS.Yusuf : 12)

23 Juni 2007
Semoga bisa menjadi obat buat siapa saja yang tepat… :9

Jaga obgyn (2): Anak itu bisa merasakan apa yang Ibu rasakan‚Ķ

Hari itu pagi buta 10 September 2009…

‚ÄúSelamat, Bu! Anaknya laki-laki!‚ÄĚ Bayi itu diletakkan di dada sang ibu untuk menerima ASI pertamanya.

‚ÄúYah, kok laki-laki‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúLoh, Bu,ibu ga senang anak ibu laki-laki?‚ÄĚ Kataku bingung.

‚ÄúEnggak. Saya maunya anak saya perempuan‚Ķ‚ÄĚ jawabnya, lugas. Aku terbengong2 mendengar jawaban si Ibu. Entah si ibu ini senang bercanda atau memmang serius, tapi aku selalu mengira seorang ibu tidak akan pernah kecewa dengan jenis kelamin anaknya. Kalau alasannya suaminya, aku sempat mengira mayoritas seorang pria menginginkan anaknya laki-laki. Jadi?

‚ÄúIni anak ibu yang keberapa?‚ÄĚ (Bukan aku yang menganamnesisnya sehingga aku tidak tahu riwayat gravida, partus, dan abortusnya)

‚ÄúIni anak kedua, yang pertama laki-laki juga. Jadi saya inginnya sekarang perempuan‚Ķ Biar sepasang, gitu‚Ķ‚ÄĚ

Oooo…

‚ÄúBu, jangan berkata begitu, anak ibu kan lucu… laki-laki atau perempuan tetap anugerah Allah‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúSaya tetap mau anak saya perempuan‚Ķ‚ÄĚ

Duh, terserah ibu, deh…

Setelah aku membantu kelahiran plasentanya, dokter yang lain mengerjakan penjahitan pada bagian yang luka.

‚ÄúDokter, tetap di sini, ya. Saya takut sendirian di sini.‚ÄĚ Katanya sambil memegang tanganku dengan erat. Well, seharusnya aku sudah beralih ke pasien lain untuk mengerjakan tugas lainnya, berhubung itu adalah IGD yang sibuk‚Ķ Tapi, tak apalah, aku bersama pasien itu dulu… ‚ÄúIya, Bu, tenang saja, saya tetap di sini.‚ÄĚ

Penjahitan dilakukan dengan anestesi local. Memang sakit tidak terasa lagi, namun sering tetap terasa juga saat jarum-jarum itu menusuk jaringan sehingga seringkali Sang Ibu juga mengeluh atau berteriak kecil karena kurang nyaman dan memegang tanganku lebih kencang. Uniknya, setiap kali Sang ibu mengerang kecil, bayi yang ada di dadanya ikut menangis! Dan pada saat ibunya berhenti, sang makhluk mungil juga berhenti menangis.

‚ÄúDia merasakan yang ibu rasakan‚Ķ Saat Ibu mengerang, dia ikut menangis‚Ķyang sabar, ya, Bu‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúIya..‚ÄĚ Katanya sambil tersenyum.

Tapi tak lama dia mengulang lagi perkataannya‚Ķ ‚ÄúHuh‚Ķkenapa anakku laki-laki‚Ķ?‚ÄĚ

Aku tertegun mendengarnya… dan seketika, setelah sang ibu mengatakannya, si bayi pun… menangis lagi…

‚ÄúWah, bu, setelah ibu ngomong begitu, anak ibu jadi nangis, tuh‚Ķ jangan ngomong begitu lagi, dong, Bu‚Ķkasihan anaknya‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúIya, sih‚Ķ tapi, saya inginnya anak saya perempuan‚Ķ‚ÄĚ

Rasanya tak tega melihat anak itu menangis seakan sedih karena tidak adanya penerimaan ibunya terhadap jenis kelaminnya…Tapi aku memilih untuk diam saja dan tetap tersenyum pada sang ibu, dan member dukungan padanya untuk menerima kelahiran anaknya.

Aku terpaksa meninggalkannya ke ruangan lain untuk menolong kelahiran ibu lainnya. Di ruangan yang berbeda itu, lahirlah seorang anak perempuan yang manis dengan perjuangan yang sangat berat dari seorang ibu muda. Sesuai prosedur, aku harus mencuci sarung tangan yang kugunakan ke larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi. Di ruangan itu aku tak menemukannya. Lalu aku mencari ember larutan tersebut yang kutemukan di ruangan ibu yang pertama.

‚ÄúPermisi, Bu, saya mau cuci sarung tangan di sini.‚ÄĚ Sapaku pada sang ibu.

‚ÄúOh, iya, Dok‚Ķ baru ada yang melahirkan lagi, ya?‚ÄĚ

‚ÄúIya, Bu‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúPerempuan atau laki-laki, Dok, anaknya?‚ÄĚ

‚ÄúPerempuan, Bu‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúWah, senang sekali ibunya pastinya‚Ķ Dapat anak perempuan‚Ķ!‚ÄĚ

‚ÄúMasih aja nih, si ibu‚Ķ‚ÄĚ

‚Äúiya, Dok, saya ingin anak perempuan‚Ķ‚ÄĚ

Duuh…

Entah kenapa aku terus berempati pada perasaan si bayi. Kasihan dia, si ibu seperti tidak mengharapkannya. Dan entah kenapa pula aku sulit sekali berempati pada si ibu. Hanya karena anaknya sudah ada yang laki-laki, masa dia tidak mau menerima anaknya laki-2? Oke, gapapa, tapi tidak perlu disebut berulang-ulang begitu, kan?

Kenapa ya, si ibu ingiiin sekali anak perempuan? Selain supaya sepasang dengan anak pertamanya yang laki-laki, mungkin dia ingin ada yang bisa menemani dan membantunya di rumah sebagai sesame perempuan. Mungkin ada tuntutan di keluarganya supaya dia punya anak perempuan (walau kukira mayoritas penekanan ini adalah adanya anak lelaki)? Mungkin dia menganut paham matrilineal yang berprinsip garis keturunan dari pihak ibu (hey, aku orang padang tapi ga segitunya…walau memang ternyata saudaraku perempuan semua sih… :9)? Atau mungkin, di balik sikap senyumnya,si ibu sedang mengalami baby blues yang merupakan semacam bentuk depresi ibu pasca persalinan karena berubah drastisnya keadaan hormonal tubuh…? Atau..

Kalau dicari-cari kemungkinannya, masih banyak sekali… tapi sayang, aku tak bisa memastikannya berhubung aku sedang kerja di IGD yang sibuk… Sayang sekali… Yah, bersabarlah, Bu… Itu pasti yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu bisa menerima kondisi anak ibu, karena lihatlah, setiap Ibu mengeluhkan itu, sang bayi selalu tiba-tiba menangis, entah, padahal dia belum bisa memahamimu bicara…

Jaga Obgyn (1): Sulitnya jadi residen obgyn tingkat awal

9 September 2009

Ronde saat jaga malam adalah bagian yang cukup menegangkan. Itu adalah saat pelaporan tentang kondisi masing2 pasien di IGD oleh PPDS yang lebih junior. PPDS dari chief hingga fetus alias F, ditambah koas yang jaga malam itu harus mengikuti ronde. Aku selalu deg-degan setiap mau ronde, Karena selalu belum cukup mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teori hingga praktek yang biasanya ditanyakan oleh PPDS. Tapi ternyata, setakut-takutnya aku, lebih takut lagi jadi seorang PPDS paling junior, alias F alias fetus alias janin, yang biasanya akan lebih diserang oleh chiefnya.

Masuklah kami saat ronde ke sebuah ruangan untuk pre eklampsia…waduh, pre eklampsia… aku sudah tahu secara umum teori-teori tentang penyakit ini, tapi ada yang belum aku tahum dan memang belum dikasih di ruang kuliah, yaitu dosis obat dan cara pemberian obat alias terapi praktisnya! Segera aku ebrbisik ke teman di sebelahku supaya dia mencari tahu tentang hal itu karena ga tahu kenapa feeling ku mengatakan itu akan ditanyakan. Belum sempat dia mengambil buku untuk mencari jawaban, kami sudah ditanya…

‚ÄúCo ass! Bagaimana cara pemberian dosis MgSO4 kepada pasien preeclampsia?‚ÄĚ

Kami bertiga para koas malang itu gelagapan… Sekali lagi, secara teori kami tahu dosis tapi cara pemberiannya, kami belum tahu…

‚ÄúWah, bagaimana, sih, kalian harus tahu dong, cara pemberiannya‚Ķ Bagaimana kalian bisa mengobati pasien kalau tidak tahu‚Ķ nanti kalau sampai lewat dosis maksimal gimana‚Ķ??? Memangnya, berapa dosis maksimal MgSO4???!!! Lalu, berapa waktu paruh MgSO4 dalam darah????!‚ÄĚ

Wuah, makin gelagapan kami… aku memang belum baca dosis maksimal MgSO4… waduh2… maklum, baru awal-awal modul… (suatu cara ngeles yang sebenarnya tidak boleh dibenarkan… :9) Aku males juga kalau harus dimarahi dan dipermalukan di depan PPDS2 obgyn  itu…

Tapi untung kami tidak dimarahi maupun dipermalukan…sang chief malah memanggil PPDS F alias si super junior…

‚ÄúMana PPDS F nya??‚ÄĚ PPDS F adalah PPDS tersibuk yang harus terima banyak disuruh2 oleh seniornya. Tugas mereka adaaaa aja‚Ķ nama mereka paling sering bergema di ruangan besar IGD obgyn karena dipanggil ke sana kemari‚Ķ Lalu datanglah si F tergopoh2 karena habis mengerjakan sesuatu‚Ķ waduh, ketahuan kabur dia‚Ķ gawat2‚Ķ

‚ÄúMaaf, Dok‚Ķ‚ÄĚ kata si F sedikit terengah‚Ķ

Sang chief lalu menanyakan pertanyaan2 yang tadi ditanyakan pada kami kepada si F. Si F, entah lupa, entah grogi, entah benar2 ga tahu, gelagapan juga menjawabnya. Dan tak disangka, sang chief berkata padanya,
‚ÄúGimana, sih, coass2 ini aja tahu jawabannya tadi‚Ķ!!! Makanya, lain kali ikut ronde..!!!!‚ÄĚ

Dan kami pun terbengong2…

Itu pertama kalinya aku merasa dimuliakan di atas kesengsaraan orang lain…

Haduh…

Sedikit banyak itu membuatku berpikir ulang untuk masuk PPDS obgyn…

:9 hehehe…

*)PPDS=Program Pendidikan Dokter Spesialis