Jihad itu…

Jihad itu…

bukan menyerang para tamu,

pun bukan berjuang karena kesumat,

bukan pula berusaha mencipta bahaya…

tapi jihad itu…

berpeluh-peluh menimba ilmu,

berlelah-lelah menghalau maksiat,

dan…

bersusah payah membawa cahaya…

Be a Good Moslem or Die as Syuhada”

That’s my motto, too… what’s wrong?

Mungkin sebagian mereka hanya belum terbiasa… dan sebagian mereka memang sudah salah makna dengan yakinnya… seperti aku yang juga sedang belajar membiasakan diri dan memaknainya..

fuuh…

Please, don’t perceive jihad in a narrow way…!

-23 Juli 2009; H+6 peristiwa pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton;

sehabis menonton berita TV tentang stiker di jendela rumah Ibrahim…-

Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum [nyata] orang-orang yang sabar.” (QS.Ali Imran:142)

Muhasabah Kematian

Bila sesosok jasad di depanmu itu adalah kalian…

Mungkin pagi kemarin kalian masih berjalan2 dengan teman2 kalian…

Mungkin siang kemarin kalian masih sempat mendengar sayup-sayup tausiah…

Atau mungkin sempat sejenak tidur bersantai menikmati hari…

Mungkin sore tadi kalian masih tertawa dan bercanda bersama teman2 kalian…

Tapi kini, inilah kalian, terbujur kaku… Lanjutkan membaca

komik 16 kepribadian

Ini kra2 gambaran keenam kepribadian versi saya sendiri hasil baca2 berbagai sumber. Dibikin pas iseng waktu liburan… ( he2, kurang kerjaan, ya? 😀 ) Ga 100% akurat, sih… ya… anggap aja lucu2an… 😀  Moga2 bisa menghibur dan mempermudah pemahaman tentang ke16 tipe kepribadian… 🙂

copyright by virandaputrimariska 😀

kisah si tanah

30 Juli 2008

Hari itu ada kicau burung beterbangan, taburan sinar matahari yang cemerlang, dan tiupan angin yang berhembus sepoi2. Si tanah senang karena hidupnya damai bebas tak terusik.

Tapi, tiba2 datang hujan…

dan si tanah mulai mengeluhkan rintikannya yang membuat dirinya becek. Hujan makin deras, dan si tanah panik takut ia menjadi longsor. Tapi si tanah berusaha tetap sabar menerima deraan hujan yang datang itu dan berusaha manyerapnya. Ia tak menyadari bahwa di dalam dirinya, sebuah benih yang tidak terlihat, sedang bersyukur mendapatkan sang air hujan…

Hari demi hari dilalui dengan diselingi hujan dan matahari. Keluh dan gerutu silih berganti dengan pekik senang dan senyum cerah si tanah. Sampai suatu saat, datang hujan deras yang lebih kuat lagi. Tapi si tanah tak cemas akan genangan air, pun ia tak takut akan longsor. Ia pun kini aman terlindungi karena sudah ada pohon rindang yang tumbuh di atasnya. Dedaunannya melindunginya dari hujan dan akar kokohnya melindunginya dari longsor, dan kini ia pun telah menjadi tanah yang lebih berguna dari sekadar tanah biasa.

Andaikan hujan tak pernah datang menimpanya, atau si tanah tidak mau menyerap airnya, mungkin benih di dalamnya itu kini telah mati, tanah itu mungkin akan longsor saat ada hujan deras, atau menjadi tanah becek yang diumpat orang saat hujan rintik2, tanpa ia tahu bahwa benih yang bertemu air itulah yang kelak akan menjadikannya sesosok tanah yang tangguh dan bermanfaat bagi dirinya dan sekitarnya…